Terima kasih Telah berkunjung ke Blog 'TEATER KOPYAH'. follow twitter kami: @TeaterKopyah,Atau tinggalkan pesan di: teater_kopyah@yahoo.coiid. Salam Budaya!

Rabu, 27 April 2011

Temu Kangen Teater Kopyah



Bertepatan dengan Haul Mbah Munawwir pada malam Ahad, 14 Mei 2011, Teater kopyah Berencana mengadakan temu kangen, diharapkan kehadiran temen-temen semua, untuk informasi lebih lanjut hubungi:
087887103645 (Mas Iwan RS)
081227352525 (Bgenk)
081804007058 (Gitong)
081328324980 (Ahong)
085725974141 (Blue)
085743770666 (Herder)

Nyonya Alvi dan Mawar Hitam



Cerpen Iwan RS





Nyonya Alvi tentulah ia seorang yang baik, ramah, dan boleh jadi sangat perhatian. Suatu kali ia pernah mengingatkan kerah bajuku yang kurang pas. Hal kecil sebenarnya tapi amatlah berarti semestinya ditaruh dalam hati. Itulah barangkali yang membuatku kerasan ngobrol dengannya. Obrolan kami tidaklah lebih dari soal bunga, lain dari itu secuil saja. Sesekali pernahlah kami ngobrol selain bunga, tapi bicara selain bunga hanyalah bumbu untuk ngobrol soal bunga. Hmm, Nyonya Alvi ia begitu tergila-gila akan bunga.

Begitulah, setiap Minggu pagi jam delapanan, aku musti mampir ke rumah Nyonya Alvi. Ia membeli bunga-bunga yang kubawa untuk dipeliharanya di pekarangan atau di belakang rumahnya yang karuan luas. Entah berapa banyak koleksi bunga hias yang dimiliki dengan beragam jenisnya. Sudah hampir tiga tahun setiap Minggu ia membeli bunga. Sepertinya membeli bunga merupakan suatu kemutlakan baginya. Itu yang Nyonya Alvi beli padaku. Sebelum aku, ia pernah punya penjual bunga, tapi penjual bunga itu telah pindah ke kota lain. Dicarilah penjual bunga baru. Dan akulah penjual bunga itu hingga kini.

Kyai Zami dan Anjing-anjing Berkelintar








Cerpen:Iwan RS



Sudah beberapa hari ini setiap tengah malam, puluhan anjing akan berdatangan dari berbagai arah. Anjing-anjing itu akan bergerak menuju surau kampung Mahoni, kampung yang bermukim dilereng bukit dengan jarak berjauhan dengan kampung lain. Anjing-anjing akan menerobos malam dengan kemilau bulan pucat pasi yang menerpa bulu mereka yang lembut hingga tubuhnya nampak berkilau. Surau panggung yang sudah berumur itu berdinding papan kayu jati, berdiri sekitar limaratus meter dari rumah penduduk. Tempat ibadah sederhana dengan konstruksi bangunan lawas namun nampak begitu teduh dan bersih dengan rerumpunan perdu, mahoni, serta jejar pepohonan kelapa yang melingkunginya. Tentulah surau kebanggaan, surau tempat mereka mengabdikan segenap tubuh dan jiwa mereka untuk Sang Pencipta atas hidup yang telah mereka kecap.

Lelaki Sejati






Cerpen : IWAN RS

Pak Sapto ngelangkah ke podium setelah MC upacara bendera mempersilahkan beliau untuk ngasih sambutan barang sepatah dua patah kata. Sepatah dua patah kata yang kadang nyampenya jadi ribuan kata. Kalo udah pidato Pak Sapto emang suka lupa waktu, gak peduli anak-anak udah belingsatan kaya cacing kepanasan, dijemur di lapangan sekolah, di bawah terik matahari Jakarta. Tapi anak-anak musti kudu dengirin pidato langagganan yang saben Senin pagi digelar.
Kalo mau jujur sebenernya anak-anak boring tiap kali harus dengerin pidato kepala sekolahnya itu, abisnya monoton banget, temanya itu melulu, gak pernah ganti, kalo gak soal disiplin ya soal kebersihan. Tapi gimana lagi, kalo ketahuan meleng, gak dengerin, resikonya bisa lebih gawat, bisa dievakuasi ke kantor lalu suruh pasang kuping penuh seksama dan berhamburanlah kalimat demi kalimat dari mulut Pak Sapto dengan voleme tinggi dan bikin budek. Gila! Itu sih sama aja keluar kandang macan masuk mulut macan. Gak tahu tuh Pak Sapto hobi banget kalo pidato, mungkin beliau punya prinsip bahwa "Hidup adalah pidato", atau "Sekali pidato tetap pidato", atau "Terus pidato atau mati dalam gelisah" atau "Speech is my life.
Sumpah, kalo Pak Sapto lagi pidato sebenarnya kebanyakan anak lebih suka kasak-kusuk ngobrol sendiri, meski mata fokus ke podium---ke arah lelaki setengah baya yang kepalanya cuma ditumbuhi beberapa helai rambut dan maaf mirip Darto Helm serta kumis melintang ala Gatot Kaca---ya biar kelihatannya serius dengerin pidato beliau, padahal sih cuek bebek. Kadang anak-anak justru malah ngeledek gaya pidatonya Pak Sapt yang kalo pidato dari sudut bibirnya suka nongol buih putih kecil. Buih putih nan kecil yang sring disebut anak-anak : tsunami Yunior.

Selasa, 19 April 2011

Antara Bismillah, Kang Dalimin dan Gus Mus




(Cerpen Iwan RS)

Penumpang yang duduk di sebelahnya menyodorkan salak. Kang Dalimin yang dari tadi melempar pandang ke luar jendela bus, melirik.

“Cobalah, Kang,” kata penumpang--yang dari basa-basi singkatnya, punya tujuan sama, yakni ke Jogja--dengan ramah. “Salak pondoh. Enak lho, Kang. Kalau mau ambilah….”

Merasa terpancing dengan keramahan si penumpang tadi, Kang Dalimin menjumput sebiji salak yang ditawarkan, mengucapkan terima kasih, mengupas dan mengunyahnya. Setelah itu kembali ia melempar pandang ke luar jendela seperti sediakala, dengan tidak lupa memasang muka masam. Sesekali nampak ia terkantuk-kantuk, tapi selalu tak dapat memejamkan mata dengan lezat, sebab sepertinya runyam tengah mengunjungi pikirannya.